Tentang KamiIndeks

Jepang Kerahkan 10.000 Polisi dan Teknologi AI Amankan Pembukaan Asian Games Aichi-Nagoya 2026

Redaksi2 menit baca
Jepang Kerahkan 10.000 Polisi dan Teknologi AI Amankan Pembukaan Asian Games Aichi-Nagoya 2026
Badan Kepolisian Nasional Jepang (National Police Agency) mengumumkan rencana pengamanan berskala besar untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Otoritas keamanan akan mengerahkan hingga 10.000 personel polisi per hari selama pesta olahraga multicabang ini berlangsung, dengan puncak perhatian pada upacara pembukaan resmi yang dijadwalkan pada Sabtu, 19 September 2026, hingga penutupan pada Minggu, 4 Oktober 2026. Ajang ini menandai kembalinya Jepang sebagai tuan rumah Asian Games untuk pertama kalinya sejak 1994, dengan rangkaian acara dan pertandingan utama terpusat di Prefektur Aichi. Upacara pembukaan Asian Games Aichi-Nagoya direncanakan digelar di sebuah stadion atletik di Kota Nagoya, kawasan Jepang bagian tengah. Mengutip Kyodo News, Kamis (10/9/2026), Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako dijadwalkan hadir langsung dalam seremoni tersebut. Sementara itu, Perdana Menteri Sanae Takaichi diperkirakan tidak akan menghadiri acara pembukaan. Kehadiran keluarga kekaisaran dan status ajang yang berskala internasional membuat otoritas keamanan memperketat pengamanan di sekitar lokasi dan area sekitarnya. Untuk mengamankan upacara pembukaan, sekitar 10.000 polisi disiagakan di lapangan, termasuk 3.100 personel pasukan khusus yang didatangkan dari kepolisian daerah di seluruh Jepang. Penguatan pasukan lintas wilayah ini dipersiapkan guna mengantisipasi berbagai skenario, mulai dari ancaman terorisme hingga situasi darurat lainnya. Selain penjagaan darat, pengamanan ketat juga diberlakukan di wilayah udara sekitar lokasi penyelenggaraan, sebagai bagian dari upaya menyeluruh untuk mencegah gangguan keamanan selama perhelatan berlangsung. Dalam operasi pengamanan kali ini, kepolisian Jepang untuk pertama kalinya memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi potensi serangan teror, terutama dari pelaku tunggal (lone offender). Sistem AI tersebut digunakan untuk menganalisis unggahan di media sosial dan menilai tingkat risiko dari ancaman yang muncul. Sejalan dengan itu, pada hari Senin, Badan Kepolisian Nasional Jepang juga mendirikan pusat pengumpulan informasi khusus yang bertugas mengumpulkan data relevan, termasuk memantau konten ancaman di berbagai platform media sosial, guna mendukung respons cepat terhadap setiap indikasi bahaya.
Campaign